Tampil di Talkshow Ecofriendly Capital of Indonesia, Farid Minta Pemerintah Matangkan Desain IKN Sebelum Mulai Pembangunan

Katuju.id-Rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim) tak pelak menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. Mereka yang anti kebanyakan mempertanyakan isu lingkungan selain tentunya terkait anggarannya sendiri. Namun di sisi lain, pemindahan ini dinilai membawa angin segar pemerataan pembangunan yang selama ini seolah terpusat di Pulau Jawa.

Hal ini menjadi tema utama bahasan dalam acara talkshow Ecofriendly Capital of Indonesia dengan meminta pandangan para pengamat terkait pemindahan IKN. Kegiatan yang berlangsung di Yayasan Madani Berkelanjutan (YMB), Jakarta ini menghadirkan Farid Nurrahman, pengamat tata kota Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dan Jubir DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mikhail Gorbachev, sebagai narasumber.

Mengawali paparannya, Farid mengaitkan ditunjuknya Kaltim sebagai IKN tak terlepas dari sisi histori masyarakat wilayah ini. Sebagai putra daerah, Farid paham benar psikologi warga Kaltim yang sangat terbuka terhadap pendatang dan terbiasa dengan heterogenitas. Ini dicontohkan langsung oleh Kesultanan Kutai Kartanegara di masa lalu yang sangat senang menerima tamu dari luar. Yang mana ini dilanjutkan di era orde baru, dengan memilih Kaltim sebagai daerah transmigrasi.

Farid Nurrahman saat memaparkan lokasi tempat pemindahan pusat pemerintahan di Ibu Kita Negara Baru


Lebih rinci Farid menyebut konsep perencanaan pemindahan IKN ini harus betul-betul matang. Membangun sebuah kota baru dibutuhkan perencanaan matang terkait penyediaan fasilitas kebutuhan publik. Apalagi ia menyebut di Indonesia ini tidak ada satu kota pun yang memiliki konsep tata kota yang jelas.

"Intinya masyarakat Kaltim menyambut senang rencana ini. Karena ada harapan mereka akan mendapatkan akses kehidupan yang lebih baik, dari segi kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Hanya persoalan lahan saja yang masih jadi kerisauan," terang pria yang menyelesaikan studinya di negara Inggris tersebut.

Selanjutnya Farid juga mengharapkan IKN ini nantinya benar-benar mampu mengakomodir konsep kota baru baik dari segi tata kota, lingkungan hingga penggunaan sumber energinya.

Sementara itu Mikhail Gorbachev mengatakan ada banyak alasan mengapa IKN harus dipindah ke Kalimantan. Tentu selain beban Jakarta yang semakin kesulitan mentransportasikan warganya sendiri, faktor alam menjadi hal yang tak bisa dikesampingkan. Apalagi dengan adanya temuan sesar baru di Pulau Jawa yang membuat Jakarta sangat riskan bencana.

Kaltim dipilih menurutnya karena memenuhi beberapa indikator variabel, terutama tingkat keamanan. Provinsi yang dipimpin oleh Isran Noor ini dinilai memiliki potensi konflik sosial yang lebih rendah dibanding daerah sekitar dan tingkat keberagaman yang tinggi.

Secara umum para narasumber sepakat bahwa IKN ini akan menjadi titik awal pemerataan pembangunan. Seperti dikatakan Gorbachev bahwa Kalimantan yang dulunya dianggap sebagai bagian belakang, akan menjadi halaman depan yang pastinya akan lebih terfokus pengembangannya.

Sementara Farid mengharapkan IKN tidak sekadar membahas konsep tapi menyampingkan indikatornya. Ia mengimbau agar sebelum pembangunan IKN dimulai, pemerintah telah menyempurnakan desainnya. Karena akan sulit untuk merubah ketika pembangunan sudah berjalan. Termasuk persoalan zonasi wilayah, karena diyakini pemindahan IKN juga akan disusul tumbuhnya sektor industri di sekitar. Termasuk juga mulai memikirkan pemanfaatan sumber energi yang ramah lingkungan.

"Pemindahan IKN ini adalah political will yang baik dari presiden untuk mengurangi beban Jakarta. Saat ini kami senang dengan dipilihnya Kaltim, tapi yang lebih penting adalah kesiapan masyarakat sendiri untuk menghadapi permasalahan besar sebagai ibu kota," Farid memungkasi.

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.